Lantas apa yang harus dilakukan oleh seorang karakter fiktif. Apakah dia bisa memperjuangkan apa yang ada dalam imajinasi seseorang juga dia tidak yakin dengan hal itu. Dia tidak lebih dari sebuah mimpi dan ide yang tidak akan pernah menjadi nyata. Dia adalah imajinasi yang tidak bisa memperjuangkan apapun yang dia rasakan. Cinta atau benci bahkan rindupun tak layak untuk dia. Bagi seorang karakter fiktif, dia sadar diri dengan apapun yang dia perjuangkan adalah sebuah kesia-siaan yang mutlak. Namun demikian, dia memiliki keyakinan dalam kesia-siaannya itu dia selalu berdoa agar bahagia selalu bersamanya. Dia tidak bisa berjuang untuknya, tapi untuk seorang karakter fiktif, dia meyakini dengan berdoa merupakan cara yang ampuh untuk menghadirkannya meski hanya lewat mimpi atau sebatas imajinasi.
Senin, 09 Agustus 2021
Jurnal #9 "Menghargai"
Kali ini dia tidak ingin bicara panjang lebar denganku. Dia lebih banyak terdiam saat kami bersama, bahkan ketika bersama yang lain dia pun masih bersikap seperti saat bersamaku. Terlintas dalam benaknya, untuk apa terlalu banyak bicara jika tiada yang mendengar. Maka dia gunakan telinganya untuk mendengarkan keheningan, dia mencoba memahami apa yang sejatinya didengar. Ini bukan lagi tentang dia bisa mendengar tapi apakah dia merasakannya. Keheningan ini memiliki suara, karena dia terlalu mengabaikannya maka tak pernah dia dengar keheningan.
Dia tidak ingin bercerita tentang keheningan, tapi dia ingin berbagi cerita tentang apa yang dirasakan dalam keheningannya. Ternyata ada bagian kehidupan yang selama ini dia lewati. Dia teringat beberapa alasan seseorang melakukan suatu tindakan adalah karena ingin diakui, sebuah aksentuasi. Sederhana nampaknya namun sukar realitanya untuk mengakui dan menghargai, sebuah pengakuan dan penghargaan dalam hidup.
Jangankan mengakui dan menghargai orang lain atau bahkan makhluk yang lain, kadang mengakui dan menghargai diri sendiri ini sukar dan lupa dia lakukan. Lantas, dia berpikir dengan dalam apakah selama ini dia bisa untuk merasa bahwa sudah menghargai orang lain dan juga dirinya sendiri. Kadang, ya hanya sebuah hal yang kadang dia lakukan. Hal sepele yang sebenarnya bisa berarti banyak dan memiliki makna kehidupan yang mendalam.
Dia tahu selama ini belum bisa menghargai waktu yang sudah dijalaninya dengan sangat maksimal, dia belum bisa menghargai semua kesempatan dan hal-hal lain dalam kehidupannya bahkan untuk menghargai sebuah kepedihan. Apa yang dia miliki dan bisa dilakukan selama ini belum bisa maksimal dia hargai, padahal sejatinya dia tidak bisa memiliki dan melakukan apapun. Dia lemah tapi dia belum mengakui hal tersebut. Hidup akan lebih bermakna jika dia bisa mengakui dan menghargai apapun yang ada dalam kehidupan, bahkan untuk udara yang dia hirup pun sejatinya belum dia akui dan hargai bahwa udara juga sedang bertasbih.