Sabtu, 15 Mei 2021

Jurnal #5 "Silaturahmi"

Dia tidak kemana-mana, lebaran ini dia solat id di mesjid terdekat. Memang pernah ada niatan untuk mudik / pulang kampung menjelang hari raya. Tapi dengan beberapa pertimbangan, dia merasa lebih baik ikut anjuran pemerintah yang melarang mudik.

Tahun ini kebijakan larangan mudik kembali dikeluarkan oleh pemerintah. Dengan maksud mengendalikan pandemi Covid-19, tentu kebijakan ini sangat baik. Namun demikian, gejala sosial di hari raya sulit dibendung. Masyarakat Indonesia benar-benar Pancasilais, suka banget melakukan hal yang berbarengan. Mudik yang jelas dilarang saja dilawan, dengan alasan klasik ingin silaturahmi di kampung halaman bersama keluarga dan kerabat, tidak peduli dengan kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah ini kalah dengan yang seakan sudah jadi kebijakan bersama, mudik menjelang hari raya.

Namun, kebijakan larangan mudik pemerintah juga menjadi anekdot rasanya ketika masyarakat dilarang pulang kampung tapi mereka diperbolehkan berwisata. Alangkah lucunya negeri ini. Dia berpendapat pemerintah seakan melarang bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat namun bersilaturahmi di kebun binatang dibolehkan. Ya mungkin inilah negeri anekdot paradoks. Sebuah negeri yang memiliki langkah maju untuk mencapai tujuan sekaligus melangkah mundur untuk meraihnya.

Gejala sosial mudik menjelang hari raya selalu identik dengan kegiatan ziarah kubur setelah pelaksanaan solat id. Mudik ini membuat masyarakat bisa silaturahmi dengan yang masih hidup dan juga silaturahmi kepada yang meninggal. Namun demikian, silaturahmi tersebut seakan menjadi alasan klasik yang klise. Sesungguhnya, dia berpendapat bahwa jika kamu mau mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga dan kerabat serta ziarah kubur, kenapa harus menunggu akan datangnya lebaran. Hal baik dan kebaikan lebih baik jangan ditunda-tunda, kamu tidak harus nunggu lebaran karena tidak ada yang tahu apakah dia dan kamu masih bisa menikmati berkah ramadhan.

Sabtu, 01 Mei 2021

Jurnal #4 "Harapan"

Dia lelah setelah seharian menyibukkan diri untuk mempersiapkan rencananya agar berjalan sukses waktu itu. Kamu mungkin belum tahu dia seperti apa, namun hal tersebut adalah wajar karena untuk memahami itu butuh waktu dan tak akan cukup menjelaskan. Dia memiliki rencana dan niat yang baik, namun itu tidak menjamin akan menjadi hal yang baik di sudut pandang orang lain. Tidak usah khawatir, begitulah kehidupan. Orang sungguh hanya menilai dan melihat yang tampak.

Sore itu, dia mencoba mewujudkan harapannya. Di bulan yang penuh berkah, ramadhan 1442 hijriyah, dia membuka program ngabuburit khatam al quran. Untuk khatam al quran ini dia butuh 30 orang sehingga per orang minimal membaca satu juz. Namun, kegiatan pertamanya ini hanya bisa dilaksanakan oleh 20 orang. Ditambah dengannya, maka sore itu hanya bisa sampai membaca Al quran 21 juz. Ada kesedihan, namun ada kepuasan dan kebahagiaan dalam hatinya. Ini adalah pelopor, kedua puluh orang inilah yang telah mewujudkan harapannya. Dia bersyukur dan masih terus berharap, pada waktunya nanti bukan cuma khatam al quran sebanyak 30 juz, dia berharap bisa lebih dari itu. Hanya itu saja harapan dia, mungkin di lain waktu harapannya akan lebih dari yang ku tulis. Dia orang yang penuh dengan harapan, dia orang yang dirahmati dan disayang yang maha kuasa, dia yakin itu. Alhamdulillah