Rabu, 31 Agustus 2022

Jurnal #31822

 Beberapa hari ini dia disibukan dengan pekerjaan namun tidak terlihat sibuk kerja. Sok sibuk saja mungkin yang nampak terlihat dalam kesehariannya beberapa hari ini. Namun di balik itu semua, dia tetap saja ingin menyempatkan hal yang terlupa walau pada akhirnya tetap saja dia tak memegang kendali atas dirinya. Hingga akhirnya, pada kesempatan ini dia mencoba kembali memenuhi janji pada dirinya.

Iya, beberapa hari ini dia merasakan hal yang berat namun tidak begitu membebani. Masalah hati sebenarnya bukan tentang beban yang berat, tapi ini tentang memahami dan mengikhlaskan. Suatu hari dia bertemu dan di hari itu juga dia berpisah. Ini bukan hanya tentang keadaan bersama ruang dan waktu yang memang bukan miliknya. Kadang memahami harus dengan cara melepaskan agar pikiran dan hati tidak saling berlogika dan atau saling meraba rasa. Biarlah mereka mengaturnya sendiri dengan kodratnya tanpa harus saling membenturkan hingga slah satunya terluka. Relakan saja jika memang tak ada hal konyol yang harus dilakukan daripada dilakukan hanya akan membuat banyak kegilaan dalam artian positif atau negatif.

Beberapa rencana bisa sesuai harapan. Namun ketika sebatas kata rencana, tetap fakta dan kenyataanlah yang akan menang jika ini adalah sebuah pertaruhan dan pertarungan. Lantas, obat yang paling ampuh ketika hal yang diharapkan hanya menjadi angan yasudahlah terima saja. Menerima bukan berarti hal yang memalukan atau hal yang bodoh untuk dilakukan, kalaupun menjadi hal bodoh dan memalukan-pun ya biarlah namanya juga kehidupan pasti akan ada hal-hal seperti itu. Ketika menerima sudah terlaksana, maka sudah sesuai hukum alamnya apa yang diterima itu bisa juga diberikan, entah diberikan kepada orang lain atau untuk diri sendiri.

Hukum alam atau kausalitas tidak bisa menjadi sebuah kepastian. Teori stimulus dan respon-pun juga membuktikannya karena tidak semua bisa berakibat seperti yang diharapkan untuk terbalas.

Dia Bukan Lagi Menjadi Dirinya #jurnaldia

 Sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan. Kadang aku muak melihat tingkahnya, tapi mau bagaimana lagi dialah sahabatku. Aku tahu dia orang yang bisa membawa suasana, tapi kekurangannya pula ketika dia sendiri menjadi orang yang mudah terbawa suasana. Moody, mungkin begitulah istilah yang menggambarkannya. Namun demikian, sebagai sahabatnya, aku bisa menerima kekurangan dan kelebihannya karena pada umumnya kadang benar sekali istilah nobody perfect. Jika aku mencari sahabat yang sempurna, entah kapan akan ku bertemu dengannya si perfect person.

Tidak salah jika aku menginginkannya yang bisa membawa suasana bukannya yang terbawa suasana. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan berbagi senyumnya kepadaku seperti hari-hari biasanya dia menemaniku. Kadang aku ingin bertanya ada apa, tapi aku tahu pasti jawabannya. Dia orang mudah terbuka namun untuk suatu mood dia akan langsung menutup diri. Aku hanya mencoba menjadi seseorang yang memahaminya, menjadi sahabat baginya rasanya tak sulit namun tak bisa dikatakan mudah juga.

Sungguh aku dibuat gila olehnya, tergila-gila karena mengagumi dia yang bisa membawa suasana namun sekaligus gila dalam artian negatif karena dia kenapa harus terbawa suasana. Setiap jengkal sudut dalam kehidupannya coba ku selami dan pahami, namun ketika moodynya datang, aku menyerah. Kadang cara terbaik dengan memahami dia yang sudah bukan menjadi dirinya sendiri adalah dengan diam. Melihat kekonyolan dalam hidupnya merupakan sebuah berkah. Tidak semua orang bisa seperti dia, namun aku tahu semua orang tidak akan mengenal dia, biarlah aku saja yang mengenalnya.

Minggu, 28 Agustus 2022

Jurnal #28822

 Utang rasa masih berasa di hatinya, dia berusaha sebisa mungkin untuk memegang apa yang sudah terucap. Ini bukan tentang harga diri, tapi komitmen yang sudah dia nyatakan kepada mereka. Jika dia tidak bisa membuktikan hari ini, maka sudah pasti dia tidak termasuk orang yang berkomitmen. Dia hanya belajar untuk menjadi orang yang berkomitmen, makanya hari ini-pun ia termasuk memulai kembali untuk menulis.

Bukan hal mudah untuk membuktikan komitmen buatnya, apalagi tentang komitmen yang terlupa seiring berjalannya waktu. Mungkin kadang bukan waktu yang patut disalahkan atas komitmen yang terlupa, tapi memang bisa jadi karena dia juga memang belum berkomitmen tinggi sehingga mudah melupa. Membicarakan hal terlupakan sepintas tidak mungkin bisa dilakukan, namanya juga lupa. Seperti saat hujan yang menetes pertama kali, dia lupa menetes di kepala, wajah, hidung atau tubuh lain, yang jelas dia hanya menghindari hujan itu. Begitupun dengan komitmen, mungkin bukan karena lupa dan waktu, tapi karena dia menghindar dari komitmennya.

Apakah menghindar bisa menjadi sebuah alasan dan jawaban atas komitmen yang terlupa dia belum bisa menemukan jawabannya. Sebuah kepastian hari ini hanyalah pelajaran yang dia dapatkan. Melalui menulis, dia hanya ingin bercerita bukan berkomitmen. Menulis memang menjadi salah satu komitmennya, namun bercerita lewat tulisan ibarat sebuah bonus. Jika ada yang membaca mungkin terkesan membingungkan dengan apa yang dituliskan. Tak mengapa, mohon maaf karena suruh siapa membaca orang yang masih belajar menulis.

Sebuah tulisan impulsif, ini seperti sebuah mahakarya buatnya. Keimpulsifan yang dituliskan lewat kata-kata yang yang muncul dan menari dengan jemari lewat tuts keyboard laptop yang dipenuhi debu karena tak tersentuh jemari dalam beberapa waktu. Baiklah, nampaknya dia akan meneruskan keimpulsifan tulisannya dari hari ke hari menuju sebuah tujuan agar terbiasa dengan komitmen. Jadi, ini adalah tentang komitmen yang dilatih melalui keimpulsifan yang ada di kepalanya.

Kamis, 11 Agustus 2022

Jurnal #001 "Siapapun Tidak Mau Sakit, Jaga Kesehatan"

 Mereka menangis, air mata jatuh meluncur dari ujung mata menuju pipi hingga akhirnya jatuh tak tertahankan. Dia kemudian menepuk-nepuk kepala mereka satu persatu. 2 orang ini menangis di hadapannya, semoga tepukan di kepala dapat menenangkan tangis mereka, itu yang terlintas dalam benaknya. Namun, tangis mereka tak mereda hingga akhirnya dia menyodorkan tissu untuk menghapus air mata mereka.

Insan sama jenis ini menangis karena sebuah alasan, cinta dan persahabatan. Dia menyadari, mereka sudah berteman layaknya saudara. Tapi hanya karena lawan jenis, mereka mempertaruhkan persaudaraan yang sudah mereka jaga. Hal bodoh yang selalu ada dalam setiap jalan kehidupan, khilaf. Begitulah yang dia tangkap dan rasakan dari cerita air mata mereka.

Dua bocah belum dewasa ini menangis dengan suara lirih dan tersedu ketika menjelaskan kepadanya. Memang tidak sejelas air yang bening, tapi air mata yang menetes dari mereka ketika bercerita dapat dia rasakan. Menjadi penengah dalam hal ketidakdewasaan memang bukan selalu menjadi hal yang mudah. Namun, untungnya bicara itu lebih mudah daripada melakukan. Dia pun dengan tenangnya mengucap beberapa kata hingga menjadi kalimat yang datang dari hati untuk mereka berdua.

Ketika kata-kata jujur yang terucap, ketulusan suara hati dia tersampaikan kepada mereka yang sedang galau dalam air mata. Seorang lawan jenis yang terus beralibi berbeda bukanlah seseorang yang pantas untuk dijadikan alasan oleh mereka berdua dalam mengakhiri persahabatan. Persahabatan mereka bukanlah sebuah musim yang silih berganti, persahabatan mereka menyatu menjadi persaudaraan. Mencoba mencari alasan untuk menyalakan sumbu dalam kegelapan dan kegalauan perasaan mereka berdua ternyata bukan hal mustahil karena dia melakukannya dengan tulus sehingga sampai ke hati mereka berdua.

Sebuah kata akhir untuk mereka dia ucapkan, "Setiap orang tidak mau sakit maka dari itu jaga kesehatan. Begitupun dengan hati, jika kalian tidak mau sakit hati, jaga hati kalian."