Mereka menangis, air mata jatuh meluncur dari ujung mata menuju pipi hingga akhirnya jatuh tak tertahankan. Dia kemudian menepuk-nepuk kepala mereka satu persatu. 2 orang ini menangis di hadapannya, semoga tepukan di kepala dapat menenangkan tangis mereka, itu yang terlintas dalam benaknya. Namun, tangis mereka tak mereda hingga akhirnya dia menyodorkan tissu untuk menghapus air mata mereka.
Insan sama jenis ini menangis karena sebuah alasan, cinta dan persahabatan. Dia menyadari, mereka sudah berteman layaknya saudara. Tapi hanya karena lawan jenis, mereka mempertaruhkan persaudaraan yang sudah mereka jaga. Hal bodoh yang selalu ada dalam setiap jalan kehidupan, khilaf. Begitulah yang dia tangkap dan rasakan dari cerita air mata mereka.
Dua bocah belum dewasa ini menangis dengan suara lirih dan tersedu ketika menjelaskan kepadanya. Memang tidak sejelas air yang bening, tapi air mata yang menetes dari mereka ketika bercerita dapat dia rasakan. Menjadi penengah dalam hal ketidakdewasaan memang bukan selalu menjadi hal yang mudah. Namun, untungnya bicara itu lebih mudah daripada melakukan. Dia pun dengan tenangnya mengucap beberapa kata hingga menjadi kalimat yang datang dari hati untuk mereka berdua.
Ketika kata-kata jujur yang terucap, ketulusan suara hati dia tersampaikan kepada mereka yang sedang galau dalam air mata. Seorang lawan jenis yang terus beralibi berbeda bukanlah seseorang yang pantas untuk dijadikan alasan oleh mereka berdua dalam mengakhiri persahabatan. Persahabatan mereka bukanlah sebuah musim yang silih berganti, persahabatan mereka menyatu menjadi persaudaraan. Mencoba mencari alasan untuk menyalakan sumbu dalam kegelapan dan kegalauan perasaan mereka berdua ternyata bukan hal mustahil karena dia melakukannya dengan tulus sehingga sampai ke hati mereka berdua.
Sebuah kata akhir untuk mereka dia ucapkan, "Setiap orang tidak mau sakit maka dari itu jaga kesehatan. Begitupun dengan hati, jika kalian tidak mau sakit hati, jaga hati kalian."