Rabu, 31 Agustus 2022

Dia Bukan Lagi Menjadi Dirinya #jurnaldia

 Sepertinya ada sesuatu yang dia pikirkan. Kadang aku muak melihat tingkahnya, tapi mau bagaimana lagi dialah sahabatku. Aku tahu dia orang yang bisa membawa suasana, tapi kekurangannya pula ketika dia sendiri menjadi orang yang mudah terbawa suasana. Moody, mungkin begitulah istilah yang menggambarkannya. Namun demikian, sebagai sahabatnya, aku bisa menerima kekurangan dan kelebihannya karena pada umumnya kadang benar sekali istilah nobody perfect. Jika aku mencari sahabat yang sempurna, entah kapan akan ku bertemu dengannya si perfect person.

Tidak salah jika aku menginginkannya yang bisa membawa suasana bukannya yang terbawa suasana. Aku hanya ingin melihatnya tersenyum dan berbagi senyumnya kepadaku seperti hari-hari biasanya dia menemaniku. Kadang aku ingin bertanya ada apa, tapi aku tahu pasti jawabannya. Dia orang mudah terbuka namun untuk suatu mood dia akan langsung menutup diri. Aku hanya mencoba menjadi seseorang yang memahaminya, menjadi sahabat baginya rasanya tak sulit namun tak bisa dikatakan mudah juga.

Sungguh aku dibuat gila olehnya, tergila-gila karena mengagumi dia yang bisa membawa suasana namun sekaligus gila dalam artian negatif karena dia kenapa harus terbawa suasana. Setiap jengkal sudut dalam kehidupannya coba ku selami dan pahami, namun ketika moodynya datang, aku menyerah. Kadang cara terbaik dengan memahami dia yang sudah bukan menjadi dirinya sendiri adalah dengan diam. Melihat kekonyolan dalam hidupnya merupakan sebuah berkah. Tidak semua orang bisa seperti dia, namun aku tahu semua orang tidak akan mengenal dia, biarlah aku saja yang mengenalnya.