Utang rasa masih berasa di hatinya, dia berusaha sebisa mungkin untuk memegang apa yang sudah terucap. Ini bukan tentang harga diri, tapi komitmen yang sudah dia nyatakan kepada mereka. Jika dia tidak bisa membuktikan hari ini, maka sudah pasti dia tidak termasuk orang yang berkomitmen. Dia hanya belajar untuk menjadi orang yang berkomitmen, makanya hari ini-pun ia termasuk memulai kembali untuk menulis.
Bukan hal mudah untuk membuktikan komitmen buatnya, apalagi tentang komitmen yang terlupa seiring berjalannya waktu. Mungkin kadang bukan waktu yang patut disalahkan atas komitmen yang terlupa, tapi memang bisa jadi karena dia juga memang belum berkomitmen tinggi sehingga mudah melupa. Membicarakan hal terlupakan sepintas tidak mungkin bisa dilakukan, namanya juga lupa. Seperti saat hujan yang menetes pertama kali, dia lupa menetes di kepala, wajah, hidung atau tubuh lain, yang jelas dia hanya menghindari hujan itu. Begitupun dengan komitmen, mungkin bukan karena lupa dan waktu, tapi karena dia menghindar dari komitmennya.
Apakah menghindar bisa menjadi sebuah alasan dan jawaban atas komitmen yang terlupa dia belum bisa menemukan jawabannya. Sebuah kepastian hari ini hanyalah pelajaran yang dia dapatkan. Melalui menulis, dia hanya ingin bercerita bukan berkomitmen. Menulis memang menjadi salah satu komitmennya, namun bercerita lewat tulisan ibarat sebuah bonus. Jika ada yang membaca mungkin terkesan membingungkan dengan apa yang dituliskan. Tak mengapa, mohon maaf karena suruh siapa membaca orang yang masih belajar menulis.
Sebuah tulisan impulsif, ini seperti sebuah mahakarya buatnya. Keimpulsifan yang dituliskan lewat kata-kata yang yang muncul dan menari dengan jemari lewat tuts keyboard laptop yang dipenuhi debu karena tak tersentuh jemari dalam beberapa waktu. Baiklah, nampaknya dia akan meneruskan keimpulsifan tulisannya dari hari ke hari menuju sebuah tujuan agar terbiasa dengan komitmen. Jadi, ini adalah tentang komitmen yang dilatih melalui keimpulsifan yang ada di kepalanya.