Senin, 07 Oktober 2024

Kedaulatan - Materi Pembelajaran PPKn Kelas 9 Kurikulum 13

 PENGERTIAN KEDAULATAN

        Kata Kedaulatan berasal dari Bahasa Arab "Daulah" yang memiliki arti Kekuasaan. Dalam Bahasa Latin, Kedaulatan itu adalah "Supremus" yang berarti "Tertinggi". Dengan demikian, secara sederhana, kedaulatan dapat diartikan sebagai "Kekuasaan Tertinggi".

        Siapakah yang memiliki Kekuasaan Tertinggi?

        Setiap negara yang merdeka pasti memiliki kedaulatan, artinya dalam negara tersebut terdapat kekuasaan tertinggi untuk mengelola pemerintahannya. Pemerintah atau orang-orang yang diberikan kewenangan/kekuasaan untuk mengatur pemerintahan itu memiliki pimpinan atau atasan berdasarkan kedaulatan yang dianut negaranya. Contoh negara yang menganut kedaulatan raja, artinya pemerintah dan orang-orang yang mengatur pemerintahan berada di bawah kekuasaan seorang Raja / Ratu. Salah satu negara yang masih menganut teori kedaulatan raja adalah Negara Inggris.

     Sebelum membahas lebih jauh tentang teori kedaulatan dan contoh beberapa negara yang menganutnya, mari kita bahas terlebih dahulu tentang empat sifat pokok kedaulatan. Suatu negara tidak bisa dikatakan berdaulat atau memiliki kedaulatan jika tidak memiliki empat sifat pokok kedaulatan. Tokoh dunia yang memperkenalkan empat sifat pokok kedaulatan adalah Jean Bodin.

        Menurut Jean Bodin, kedaulatan adalah kekuasaan tertinggi untuk menentukan hukum dalam suatu negara. Terdapat empat sifat pokok kedaulatan sebagai berikut:

1. Asli, artinya kekuasaan itu tidak berasal dari kekuasaan lain dan atau kekuasaan yang lebih tinggi.

2. Permanen, artinya kekuasaan itu tetap ada sepanjang negara itu berdiri meskipun pemerintahannya sudah berganti.

3. Tunggal, artinya kekuasaan itu merupakan satu-satunya dalam negara dan tidak dibagikan kepada badan-badan yang lain.

4. Tidak terbatas, artinya kekuasaan itu tidak dibatasi oleh kekuasaan yang lain.

Minggu, 06 Oktober 2024

Lama tak Bercerita

 Sekilas dia mengenang kembali masa yang sudah terlupa. Kenangan itu memudar namun terabadikan dalam beberapa tulisan yang nampaknya kembali menggugah rasa. Rasa itu memudar karena beberapa kemungkinan. Hidup dengan beberapa kemungkinan sudah menjadi kebiasaannya. Kebiasaan tersebut nampaknya sudah menjadi karakter dalam dirinya. Meskipun kini, dirinya belum tahu pasti apa yang sekarang dia ingin tuju. Padahal, hidup itu memiliki tujuan seharusnya.

Dia tahu, tujuan awalnya menginginkan dan mengharapkan. Dia belum menyadari bahwa apa yang dia inginkan dan dia harapkan belum tentu menjadi kebutuhannya. Hingga akhirnya kenyataan membuatnya belajar dari pengalaman. Pengalaman hanya akan menjadi guru yang terbaik bagi orang yang bisa mengambil hikmah dalam perjalanan hidup. Kemungkinannya, saat ini dia sadar akan hikmah dari kenyataan.

Namun, adakalanya pemikiran dia berubah. Layaknya mata angin yang datang dari segala penjuru, tidak menentu. Tapi, dia sadari itu hanya sebuah kekhawatiran. Khawatir menjadi kemungkinan berikutnya bagi dia sang pemikir. Memikirkan beberapa kemungkinan hingga malam dia sulit untuk terpejam. Memejamkan mata adalah sebuah anugerah tak terkira dari Yang Maha Kuasa dari sekian banyak nikmat-Nya.

Kenikmatan yang kini dia rasakan seperti memudar, padahal nikmat-Nya terus bertambah, dan dia menyadari itu. Namun kenapa dia masih bisa belum bersyukur lebih banyak dari mereka yang tidak bisa menikmatinya. Mereka tidak seperti dia, dia lebih beruntung dari  mereka. Mereka mungkin lebih bersyukur dibandingkan dia yang hanya memikirkan beberapa kemungkinan hingga dia terlupa akan nikmat-Nya.

Lupa sudah menjadi kodratnya manusia. Dia adalah seorang manusia biasa, bukan lagi seorang alien. Maaf jika harus mengatakan yang sesungguhnya bahwa dia sejatinya seorang alien. Tapi, lebih layaknya pernah menjadi seorang alien. Dia datang dari planet lain dan tiba di planet bumi ini dengan segala kebodohannya. Hal bodoh yang pertama kali dia lakukan nampaknya adalah berdiam diri.

Disaat yang lain sedang bergerak maju begitu dinamis dan perlahan, dia hanya berdiam diri. Melakukan sesuatu dengan keadaan diam apakah bisa dikatakan melakukan bagi manusia di planet bumi ini. Tentunya bukan, diam ya tidak bergerak sama sekali, tidak melakukan apa-apa.

Akan ku ceritakan sekilas tentang dia saat menjadi alien, tidak usah panjang lebar. Cerita ini terlalu luas jika diceritakan panjang lebar karena intinya adalah dia pernah menjadi alien. Layaknya superman dalam cerita film yang merupakan alien, dia berpikir dirinya apakah seorang superhero juga. Padahal itu adalah kebodohannya yang kedua.

Di planet bumi ini, tidak ada yang namanya superhero. Namun demikian, banyak film yang mengisahkan tentang superhero. Sepertinya manusia di planet bumi ini memang mengingingkan dan mengharapkan superhero hadir. Namun demikian, apakah benar superhero itu dibutuhkan?

Kita lanjutkan ceritanya ketika dia sudah merasa nyaman. Kali ini, banyak nyamuk yang ternyata menyukai darah alien sehingga mengganggunya dalam bercerita.

....

Mengenal Kata "Indonesia"

     Kata "Indonesia" berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu Indus yang merujuk kepada Sungai Indus di India dan nesos yang berarti "pulau". Jadi, kata Indonesia berarti wilayah "kepulauan India", atau kepulauan yang berada di wilayah Hindia; ini merujuk kepada persamaan antara dua bangsa tersebut (India dan Indonesia). Pada tahun 1850, George Windsor Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu". Murid Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost IndiĆ«), atau Hindia (IndiĆ«); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859) yang ditulis oleh Multatuli mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda).

      Sejak tahun 1900, nama Indonesia menjadi lebih umum pada lingkungan akademik di luar Belanda, dan golongan nasionalis Indonesia menggunakannya untuk ekspresi politik. Adolf Bastian dari Universitas Berlin memasyarakatkan nama ini melalui buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipels, 1884–1894. Pelajar Indonesia pertama yang menggunakannya ialah Suwardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara), ketika ia mendirikan kantor berita di Belanda yang bernama Indonesisch Pers Bureau pada tahun 1913.


sumber: wikipedia