Selasa, 20 Juli 2021

Jurnal #8 "Belajar dari / jadi Orang Gila"

Dia menatapnya dengan dahi yang berkerut. Muncul dalam pikirannya sebuah pertanyaan. Kenapa bisa orang itu seperti itu. Apakah tidak ada beban hidup ini baginya.

Ya, dia sedang berpikir dengan dalam sambil menatapnya. Dia seorang pemikir. Dia berpikir kenapa dan apa, tapi rasanya ada sisi lain dari dirinya yang mencoba untuk menjawab tanyanya.

Kamu tahu kenapa orang gila itu begitu, hidupnya begitu saja. Mengalir kemana kakinya melangkah. Memejamkan mata saat mereka lelah. Apa bedanya orang gila itu denganmu.

Kamu pikir orang gila tak ada beban hidup. Apakah kamu yakin benar atau salah pradugamu itu. Kalau kamu hanya berpikir benar dan salah, kamu sungguh sudah dikotak-kotakan oleh logikamu sendiri. Padahal kebenaran menurutmu belum tentu sebuah kebenaran yang hakiki. Cobalah untuk memahami kenapa orang gila itu begitu. Atau, cobalah kamu menjadi orang gila.

Apa yang kamu pahami dari orang gila itu bukan tentang kamu cari kebenaran dan kesalahannya. Toh orang gila juga manusia, mereka bisa salah dan bisa juga benar atas apa yang mereka lakukan. Belajarlah dari orang gila, pahami karena sejatinya kamu seorang pemikir. 

Dia pun mencoba untuk berhenti berpikir mencari jawaban tentang salah dan benar. Dia mencoba belajar untuk memahaminya. Ternyata, dari orang gila dia bisa belajar bagaimana caranya bertahan hidup meskipun serba kekurangan. Orang gila itu kurang sehat akalnya, ada juga yang kurang dari segi ekonomi, ada yang kurang dari segi fisik, sandang pangan dan papan juga kurang. Tapi mereka tetap menjalani hidup yang mungkin tanpa berkeluh kesah, mengeluh, dan bercerita di medsos seperti jaman sekarang. Begitu menakjubkan ternyata belajar dari orang gila. Apakah dia dan kamu harus jadi orang gila juga agar bisa menjalani dan memaknai kehidupan.

Rabu, 14 Juli 2021

draft #2

Dia tiba-tiba merasa sakit di dadanya kemudian terjatuh tidak sadarkan diri. Dia sudah terbangun di Rumah Sakit dan disampingnya sudah ada teman dekatnya. Dia diberi tahu mendapatkan serangan jantung.

Sesampainya di kamar dia terkejut. Ada sosok yang seperti dirinya, tapi bukan dirinya. Sosok tersebut mengatakan kepadanya bahwa waktunya sudah tidak akan lama lagi. Saat dia sudah tidak bisa melihatnya, itu berarti hari terakhir dia.

Lantas dia bertanya, berapa lama lagi waktu yang tersedia untuknya. Sosok tersebut tidak menjawab dengan pasti, namun satu yang harus dia sadari adalah kematiannya semakin mendekat. Dia ingin tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sosok yang mirip dengannya. Tapi, sosok tersebut mengatakan terserah padanya karena saat dia sudah tak melihatnya, itulah hari terakhirnya.

Dia melihat sosok tersebut sangat mirip dengannya dari perawakan dan sikapnya. Apa mungkin sosok tersebut adalah sisi lain darinya, yang terbentuk dari bayangan alam bawah sadarnya. Dia terus menatap dan memperhatikan dengan lebih rinci dan bertanya apa yang diketahui olehnya tentang dia. Sosok tersebut menjawab tahu segalanya tentang dia.

Kamis, 01 Juli 2021

draft #1

Orang berlalu lalang di depanku. Tak satupun yang bisa mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya. Dia seperti sosok yang entah kapan pernah hadir dalam hidupku saat ku terjaga atau terlelap. Aku lupa. Tapi, dari sekian banyak raga yang berlalu, mataku masih tertuju padanya. Terlintas tanya, apa yang terjadi denganku, kenapa mataku tak bisa mengacuhkannya.

Hari ini semua mahasiswa baru (maba) berkumpul di lapangan kampus untuk menerima orientasi pertamanya, termasuk aku. Aku memilih kuliah di perguruan tinggi swasta karena pada saat tes masuk perguruan tinggi negeri aku tidak lolos. Akhirnya aku terdampar di sebuah kampus swasta yang tidak cukup terkenal di Indonesia. Aku menyebutnya Kampus Pendidikan Fiktif dengan jurusan yang aku ambil sabagai mahasiswa fakultas ilmu sosial.

Seperti maba umumnya, aku memakai celana hitam dan kemeja putih dengan pernak-pernik khas maba yang harus dipakai. Malu sebenarnya memakai pernak-pernik maba, tapi aku mau tidak mau mengikuti kemauan para senior yang sehari sebelumnya menyuruh begitu. Rasa ingin berontak ku simpan dalam hati, terpaksa ku ikuti keinginan mereka.

Di tengah acara orientasi, para maba diwajibkan untuk saling berkenalan. Semuanya diberikan waktu 5 menit oleh senior dan diwajibkan memiliki 10 orang kenalan. Ini berarti dalam waktu semenit aku harus bisa berkenalan dengan 2 orang. Kalau aku tidak mencapai target, sudah terbayang pasti hukuman menanti dari para senior.

Kemudian saat senior berkata, "mulai". Keadaan menajadi pecah, mereka berlalu lalang di hadapanku. Maba di kampus pendidikan fiktif mulai berkenalan satu sama lain. Termasuk aku yang mencoba untuk berkenalan dengan maba lain. Namun, saat aku hendak berkenalan dengan yang lain, mataku tertuju kepadanya.

Tatapan mata itu terasa hangat dan mengingatkan aku dengan seseorang. Matanya tertuju padaku di tengah lalu lalang maba yang saling berkenalan. Aku seakan terhipnotis olehnya, matakupun sama tertuju kepadanya. Langkah kaki ini pelan tapi tertuju padanya yang memandangiku dengan cara yang ku kenal. Iya, aku mengenal tatapan ini. Ini adalah tatapannya, si pemilik hati dengan tatapan hangat yang dipenuhi kasih dan sayang di masa lalu.

Jurnal #7 "Curhatannya"

Dia menunggu tapi tak terlalu berharap untuk bertemu. Berawal dari penasaran tentang kisah yang dia dengarkan. Orang itu mengingatkan dia kepada seseorang di masa lalu. Dia merasa ada keterkaitan dan keterikatan yang sulit diungkapkan lewat kata.

Pesan itu selalu berbalas, meskipun sebenarnya banyak pesan yang tidak jelas. Tapi dia menikmati pesan yang dia baca dan tulis. Dia mengamati setiap kata dari pesan yang dia terima. Begitulah dia, seorang pemikir.

Waktu pun berlalu, ketika dia hendak pergi terdengar suara itu memanggil. Ternyata orang itu lagi, orang yang sama yang bercerita tentang kisah hidup kepadanya. Ada mata yang memendam sejuta kisah kehidupan, tentang perih, penyesalan dan kesendirian.

Akhirnya dia kembali mendengarkan kisah kehidupan sambil menatap matanya untuk bisa menyelam lebih dalam. Tampaknya, sudah sangat dalam dia menyelami mata itu dan mendengarkan kisahnya. Curhatannya memiliki keterkaitan dan katerikatan dengannya, itu yang dia katakan untuknya.