Ya, dia sedang berpikir dengan dalam sambil menatapnya. Dia seorang pemikir. Dia berpikir kenapa dan apa, tapi rasanya ada sisi lain dari dirinya yang mencoba untuk menjawab tanyanya.
Kamu tahu kenapa orang gila itu begitu, hidupnya begitu saja. Mengalir kemana kakinya melangkah. Memejamkan mata saat mereka lelah. Apa bedanya orang gila itu denganmu.
Kamu pikir orang gila tak ada beban hidup. Apakah kamu yakin benar atau salah pradugamu itu. Kalau kamu hanya berpikir benar dan salah, kamu sungguh sudah dikotak-kotakan oleh logikamu sendiri. Padahal kebenaran menurutmu belum tentu sebuah kebenaran yang hakiki. Cobalah untuk memahami kenapa orang gila itu begitu. Atau, cobalah kamu menjadi orang gila.
Apa yang kamu pahami dari orang gila itu bukan tentang kamu cari kebenaran dan kesalahannya. Toh orang gila juga manusia, mereka bisa salah dan bisa juga benar atas apa yang mereka lakukan. Belajarlah dari orang gila, pahami karena sejatinya kamu seorang pemikir.
Dia pun mencoba untuk berhenti berpikir mencari jawaban tentang salah dan benar. Dia mencoba belajar untuk memahaminya. Ternyata, dari orang gila dia bisa belajar bagaimana caranya bertahan hidup meskipun serba kekurangan. Orang gila itu kurang sehat akalnya, ada juga yang kurang dari segi ekonomi, ada yang kurang dari segi fisik, sandang pangan dan papan juga kurang. Tapi mereka tetap menjalani hidup yang mungkin tanpa berkeluh kesah, mengeluh, dan bercerita di medsos seperti jaman sekarang. Begitu menakjubkan ternyata belajar dari orang gila. Apakah dia dan kamu harus jadi orang gila juga agar bisa menjalani dan memaknai kehidupan.