Hari ini semua mahasiswa baru (maba) berkumpul di lapangan kampus untuk menerima orientasi pertamanya, termasuk aku. Aku memilih kuliah di perguruan tinggi swasta karena pada saat tes masuk perguruan tinggi negeri aku tidak lolos. Akhirnya aku terdampar di sebuah kampus swasta yang tidak cukup terkenal di Indonesia. Aku menyebutnya Kampus Pendidikan Fiktif dengan jurusan yang aku ambil sabagai mahasiswa fakultas ilmu sosial.
Seperti maba umumnya, aku memakai celana hitam dan kemeja putih dengan pernak-pernik khas maba yang harus dipakai. Malu sebenarnya memakai pernak-pernik maba, tapi aku mau tidak mau mengikuti kemauan para senior yang sehari sebelumnya menyuruh begitu. Rasa ingin berontak ku simpan dalam hati, terpaksa ku ikuti keinginan mereka.
Di tengah acara orientasi, para maba diwajibkan untuk saling berkenalan. Semuanya diberikan waktu 5 menit oleh senior dan diwajibkan memiliki 10 orang kenalan. Ini berarti dalam waktu semenit aku harus bisa berkenalan dengan 2 orang. Kalau aku tidak mencapai target, sudah terbayang pasti hukuman menanti dari para senior.
Kemudian saat senior berkata, "mulai". Keadaan menajadi pecah, mereka berlalu lalang di hadapanku. Maba di kampus pendidikan fiktif mulai berkenalan satu sama lain. Termasuk aku yang mencoba untuk berkenalan dengan maba lain. Namun, saat aku hendak berkenalan dengan yang lain, mataku tertuju kepadanya.
Tatapan mata itu terasa hangat dan mengingatkan aku dengan seseorang. Matanya tertuju padaku di tengah lalu lalang maba yang saling berkenalan. Aku seakan terhipnotis olehnya, matakupun sama tertuju kepadanya. Langkah kaki ini pelan tapi tertuju padanya yang memandangiku dengan cara yang ku kenal. Iya, aku mengenal tatapan ini. Ini adalah tatapannya, si pemilik hati dengan tatapan hangat yang dipenuhi kasih dan sayang di masa lalu.