Kamis, 03 Februari 2022

TEKS PIDATO PEMBINA UPACARA 07022022

 

Assalamualaikum wr wb

Alhamdulillah hari ini kita semua masih diberikan kesempatan untuk dapat berkumpul di saat yang berbahagia dalam kegiatan upacara pengibaran bendera merah putih yang dilaksanakan setiap hari senin.

Yang terhormat bapak kepala madrasah beserta jajarannya, bapak kepala TU beserta jajaran, dewan guru, warga madrasah dan anak-anak peserta didik soleh serta solehah yang kami sayangi.

Pada kesempatan ini, ada dua hal yang kami akan sampaikan sebagai amanat dari pembina upacara.

Pertama, terimakasih kami ucapkan kepada semua peserta upacara yang telah mengikuti kegiatan ini dengan khidmat terutama kepada petugas upacara dari kelas 98 yang telah melaksanakan tugasnya dengan penuh tanggungjawab. Kemudian kami sampaikan mohon maaf apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaan upacara hari ini, semoga di kesempatan berikutnya dapat diperbaiki.

Upacara adalah sebuah pembelajaran bagi kita semua peserta upacara. Layaknya sebuah praktek dari pembelajaran dalam kelas, ketika upacara berlangsung ada praktek dari pembelajaran seni dan budaya dalam hal menyanyikan lagu Indonesia Raya dsb, ada praktek pembelajaran sejarah dalam mengenang jasa para pahlawan, ada praktek pidato mapel bahasa Indonesia dalam pembacaan teks pembukaan UUD 1945, ada praktek mapel IPA beserta PJOK juga karena pada kesempatan ini kita semua  berkeringat dan mendapatkan vitamin D dari sinar matahari, ada juga praktek kedisiplinan yang tentunya menjadi salah satu penilaian kompetensi sikap peserta didik. Maka dari itu, berssyukurlah karena pada kesempatan ini kita semua masih bisa berupacara dalam keadaan sehat walafiat.

Kedua, disini adakah yang mengenal dengan Ki Hajar Dewantara atau Raden Mas Soewardi Soeryaningrat?

Seperti yang kita tahu, beliau adalah bapak Pendidikan bagi bangsa ini. Tanggal lahir beliau diabadikan sebagai hari Pendidikan nasional. Beliau memiliki cita-cita bahwa yang Namanya Pendidikan itu harus memiliki tujuan memerdekakan manusia. Tujuan Pendidikan yang beliau sampaikan begitu filosofis / bijaksanan sehingga dapat tetap berlaku bagaimanapun perkembangan zamannya.

Memerdekakan manusia yang beliau maksud dalam tujuan Pendidikan adalah bahwa manusia harus dapat membuat dirinya selamat dan Bahagia.

Era pandemic covid19 seperti saat ini membuat kita harus mengutamakan keselamatan. Maka dari itu, patuhilah standar protokol Kesehatan. Ingat selalu pesan ibu, mencuci tangan pakai sabun, memakai masker dengan baik dan benar, serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Selamat, itulah salah satu tujuan Pendidikan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara. Jika kita semua tidak bisa melaksanakan dan mengutamakan keselamatan, baik di dunia maupun untuk keselamatan di akhirat, maka sudah pasti ada yang salah dalam Pendidikan yang kita jalani selama ini.

Kemudian, salah satu konsep memerdekakan manusia sebagai tujuan Pendidikan adalah Bahagia.

Sebuah proyek sudah kami coba terapkan untuk peserta didik kelas IX seluruhnya tanpa terkecuali. Kami meminta mereka untuk melakukan hal apapun itu yang membuat mereka Bahagia selama 1 minggu beruturut-turut, bahkan dilanjutkan sampai dengan minggu berikutnya. Namun demikian, masih terdapat peserta didik yang menyatakan bahwa diri ini sulit untuk Bahagia. “Bapak, saya bingung caranya Bahagia, saya hanya bisa menangis saja pak”. Alangkah lucunya, ketika kamu merasa sulit untuk berbahagia, pastinya ada yang salah dengan cara kami mendidik kamu semua. Atau bisa jadi ada yang salah dengan cara pandang kita semua tentang bagaimana cara dan apa itu Bahagia.

Ketika kamu bingung cara bagaimana Bahagia, coba kamu merenung sejenak dalam kesunyian. Pejamkan mata dan dengarkan suara angin yang berhembus. Bersyukurlah, saat mata terpejam kita masih diberikan kesempatan untuk membuka mata dan bisa melihat apapun yang ada di depan mata. Kita masih bisa mendengar apa yang mohon maaf, orang tuli tidak bisa dengar. Kita masih bisa menghirup udara dan jantung masih berdetak tidak seperti mereka yang terkena serangan jantung. Jangan dulu menunggu Bahagia baru kita bersyukur, tapi mulailah dengan bersyukur sepenuh hati maka kebahagiaan akan mengisi relung hati. Kenyataannya, air mata bukan selalu tentang kesedihan, kebahagiaan yang paling dalam biasanya meneteskan air mata.

Demikian yang dapat kami sampaikan sebagai amanat pembina upacara pada kesempatan ini, mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang berkenan dan terimakasih.

Wassalamualaium wr wb