Rabu, 29 Desember 2021

JURNAL #291221

 Tepat pukul 12 malam dia terbangun. Terlintas pemikiran dan harapan semoga dai mendapatkan pertanda meski hanya dalam mimpi. Dia cek beberapa pesan di hp-nya dan membalas pesan yang memberitahukan bahwa dia sudah ketiduran dan terbangun tepat di jam 12 malam. Lalu dia melanjutkan tidurnya, dan masih berharap mendapatkan pertanda.

Dia kembali terbangun sekitar pukul 3 dini hari. Tak kuasa menahan kencing, dia pun ke kamar mandi. Setelah kembali ke kamar, dia naik lagi ke atas kasur anginnya. Masih belum mendapatkan pertanda, mimpinya entah tentang apa. Rasa kantuk yang berat akhirnya membuatnya kembali tidur. Harapan masih ada untuk kembali mendapatkan gambaran sebuah pertanda.

Setengah lima pagi dia terbangun oleh alarm. Dimatikan alarm olehnya, sambil merasa kedinginan oleh angin dari kipas, beranjaklah dia dari kasurnya. Pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil yang dilanjutkan mengambil air wudhu. Selesai solat subuh dia masih belum juga mendapatkan pertanda.

Sekitar pukul 6 dia bersepeda ke arah situ abidin. Melalui rute yang selalu dia lewati, sekitar 30 menit bersepeda sampailah di situ abidin kerawang. Beristirahat sejenak sambil minum air putih dia berpikir kembali mengenang 12 tahun yang lalu. Sampai kini dia masih belum mendapatkan pertanda.

Setelah mengambil beberapa momen di situ abidin, sekitar pukul 8 dia sudah kembali ke rumah. Handuk dan ember dia ambil untuk melakukan rutinitas pagi, mandi dan cuci baju. Satu jam berikutnya dia melakukan solat dhuha. Selesai dhuha, tubuhnya merasa lelah. Dia beranjak kembali ke atas kasur anginnya, berharap semoga mimpinya kali ini akan mendapat sebuah pertanda.