Setelah sekian lama terabaikan, dia kembali membuka blog ini. Entah apa yang akan dia tuliskan, mungkin karena terlalu lamanya dia tidak menulis. Padahal, menulis di blog ini menjadi salah satu tujuan dia di bulan sebelumnya. Rutinitas yang ingin dia lakukan kembali setelah di bulan sebelumnya pernah dia lakukan.
Baiklah, mari kita mulai kembali. Tidak ada yang salah memulai dari nol seperti jargon pertamina. Manusia tempat salah dan lupa, maka dari itu dia mencoba melakukan hal yang benar untuk memperbaiki salah dan lupanya.
Awal bulan ini banyak kegiatan baginya setelah di akhir bulan kemarin yang cukup melelahkan. Desember merupakan bulannya. Kadang ada rasa canggung menghadapi bulan Desember sejak kejadian di Tahun 2009. Tapi, roda kehidupan tetap berputar. Hidup yang merupakan perjalanan harus tetap berjalan. Maka dari itu, tahun ini dia mencoba melewati bulannya dengan cara yang berbeda. Setelah beberapa buku yang dia baca, saatnya untuk mempraktekan bacaan tersebut di bulannya ini.
Desember tidak selalu ceria buatnya. Selalu ada kekhawatiran dan rasa canggung melewati bulannya. Tapi, setelah sekian waktu berlalu dia menyadari selalu ada berbagai cara untuk melewati bulan ini. Tidak ada yang berbeda bulan ini dengan bulan yang lainnya. Mungkin yang sedikit membedakan hanyalah tentang kenangan.
Kenangan bisa menjadi hal yang manis dan ataupun pahit. Seperti istilah hidup adalah pilihan, maka dia berpikir bisa menerapkannya dalam kenangan juga merupakan pilihan. Pilihan itu bukan hanya tentang manis dan pahit, kenangan itu terlalu sederhana jika hanya membaginya ke dalam dua pilihan. Kenangan itu bisa menjadi pelajaran, bisa menjadi lucu, sedih, yang terkadang mungkin dirindukan atau bahkan ingin dilupakan.
Melupakan bukanlah perkara yang mudah dilakukan meski mudah diucapkan. Melupakan adalah perkara tentang merelakan dan mengikhlaskan. Meskipun dia bukan seorang yang sangat religius, tapi baginya melupakan adalah tentang bagaimana dia bisa tawakal. Berusaha seoptimal mungkin dan bersiap diri untuk mengikhlaskan kenyataan yang mungkin tidak selalu sesuai harapan.
Harapan itu seperti sebuah cahaya dalam kegelapan. Ketika kita tidak tahu arah dan kemana harus melangkah, harapan itu bisa menjadi penuntun. Dia termasuk orang yang banyak berharap melalui doa yang selalu dia panjatkan setiap malam tiba. Meski dia pernah merasa lelah untuk terus berharap, tapi dia tetap melakukannya hingga kini. Berdoa bagi dia seperti sebuah pengakuan atas ketidakberdayaannya dalam hal apapun. Jika dia sudah tak berharap dan berdoa, maka bisa jadi itu merupakan sebuah sikap sombong.
Kesombongan apa yang pantas dia banggakan atas ketidakberdayaannya. Sesungguhnya dia menyadari bahwa atas apapun yang terjadi dalam hidup ini, tidak ada sedikitpun tanpa campur tangan Yang Maha Kuasa, ALLAH swt. Maka dari itu, berharap dan berdoa kepada-Nya merupakan sebuah pengakuan bahwa dia tidak memiliki apapun untuk disombongkan.