Seringkali Ari mendengar Dedi bernyanyi akhir-akhir ini. Kelakuannya yang seperti itu biasanya karena Dedi berhasil atau sedang mendekati wanita lagi. Pasti, nama wanita yang sekarang juga memiliki huruf "i" lagi, seperti yang sudah-sudah. Begitulah Dedi, sepengetahuan Ari, dia selalu menceritakan wanita yang dekat dengannya memiliki nama yang mengandung huruf "i". Aneh memang sampai Ari bisa menebak seperti itu, entah sebuah kebetulan atau memang Dedi selalu ditakdirkan mudah mendekati dan meluluhkan wanita dengan huruf "i".
"Hei boy, masih ngelamun aja! Mandi sana Ari, masa tiap pagi harus gw ingetin mulu" Dedi mengagetkan Ari dengan lemparan handuk ke arah mukanya.
"Plokk" handuk tersebut jatuh pas tepat di wajah Ari yang sedang melamun.
"Ayok kawan, hari ini kan Mister Dedi ini sudah promise to you. Gue mau traktir lo ngopi sambil bahas skripsi lo yang belum kelar-kelar nih" kali ini Dedi menarik tangan Ari untuk terbangun dari rebahannya.
"Slow bro, iya gue mau mandi, bentar lagi" Jawab Ari
"Sekarang Ari, gw jadwal padat nih abis ngopi sama lu ada janji soalnya sama Dini" Dedi tersenyum sambil mengedipkan mata ke arah Ari
"What!!! Kemarin belum juga seminggu lo bukannya baru putus sama Lani?" Ari mengerutkan wajah dengan heran dan meneruskan, "Kok bisa sik Ded lo cepet banget buat move on, malah kemarin rasanya lo baru bilang kalo Lani itu mantan terindah lo kayaknya deh" semakin heran Ari mengkerutkan dahinya
"Kawan, asal kamu tahu Ari, yang mendewasakan perasaan ini tidak lain dan tidak bukan adalah melalui pengalaman brother" Dedi kemudian menambahkan, "Gue juga ada momen menikmati kegalauan, tapi gue sebisa mungkin jangan sampai dikuasai oleh perasaan, harus gue yang mengendalikan perasaan gue bro" kemudian sambil tersenyum Dedi menambahkan, "Dan itu gue dapatkan berdasarkan pengalaman. Bahagia dan kesempatan itu bukan untuk ditunggu, tapi diciptakan"
....