Gelisah nampak dari raut wajahnya, dia menyadari sesuatu yang mungkin saja bisa terjadi meskipun tak sepenuhnya dia berharap menjadi kenyataan dan tak sepenuhnya juga dia berharap untuk tidak menjadi kenyataan. Seminggu yang lalu dia bermimpi tentang ibunda yang saat ini sedang sakit dan dalam proses penyembuhan. Namun, dalam mimpinya di minggu lalu itu bercerita tentang kematian ibundanya. Dia mendengar kabar dalam mimpi bahwa ibunda meninggal di Hari Jumat, dia terkejut. Dalam mimpinya, ibunda datang mengabari dan menyampaikan beberapa pesan yang terlupa tentang apa saja yang disampaikan oleh beliau. Dia terbangun, meneteskan air mata, bersedih jika benar ibunda harus tiada, namun dalam hati kecilnya juga bahagia jika benar ibunda meninggal di Hari Jumat, hari yang baik, Rajanya Hari dalam keyakinannya.
Hari ini, Tanggal 29 November 2023, hampir seminggu setelah kejadian mimpi tersebut, dia kembali tersadar dengan memori yang telah berlalu hampir sedekade lebih. Seketika dia cek kalender dalam gawainya dan membuka kalender di Bulan Desember 2023. Terkejut, ternyata Tanggal 29 Desember 2023 tepat jatuh pada Hari Jumat. Sebulan lagi, dia nampak bingung dan gelisah tak tentu.
29 Desember 2009, ketika orang-orang merasa bahagia dengan sebuah perayaan kelahiran, dia sebaliknya. 21 tahun setelah dia dilahirkan, pada tanggal yang sama dia dilahirkan, ayahanda pergi untuk selama-lamanya. Sebuah luka yang membutuhkan waktu sedekade lebih untuk menyembuhkannya meskipun seiring waktu dia menyadari tiada yang lebih indah selain mengikhlaskan. Kenyataan ini adalah yang terbaik, dan ikhlas terhadap kenyataan adalah sebuah perjuangan baginya. Namun, ketika mimpi di minggu lalu kembali terngiang, dia mulai sedikit berpikir dalam ikhlasnya. "Setragis inikah jalan hidup ikhlas yang harus dia jalani?"
Bukan ingin menyalahkan, dia hanya bertanya-tanya apakah ini merupakan kabar untuk membuatnya mempersiapkan diri. Apakah kenyataan yang akan datang di 1 bulan yang akan datang akan menjadi sebuah .... entahlah harus menggunakan kata apa untuk menggambarkannya. Yang jelas, dalam hatinya seperti ketika dia terbangun dari mimpinya di minggu lalu, akan ada tangis bersedih dan mengandung bahagia jika memang harus seperti itu.
Tulisan ini dia buat untuk kusampaikan ketika waktunya tiba, dia hanya ingin ditepuk-tepuk pundaknya dalam pelukan sambil katakan, "Dunia baik-baik saja." Itulah kalimat yang ingin dia dengarkan di Tanggal 29 Desember 2009. Namun kini, dia mengingatkan untuk menambahkannya sehingga menjadi kalimat, "Dunia baik-baik saja, beliau telah bersama Sang Maha Cinta, mari berbahagia untuk beliau."