"Jangan paksakan anak-anakmu mengikuti jejakmu, mereka diciptakan untuk kehidupan di zaman mereka, bukan zamanmu." - Socrates -
Beliau adalah seorang filusuf yang berasal dari Yunani. Berdasarkan beberapa literasi, beliau hidup sekitar tahun 400 sebelum masehi dan meninggal karena dihukum mati dengan menenggak racun. Sebagai seorang filusuf, beliau ditentang dan dituduh oleh kaum sufis yang mengakibatkannya dihukum mati.
Filusuf adalah sebutan untuk orang-orang yang pandai berfilsafat atau untuk seorang Guru filsafat. Filsafat berasal dari bahasa Yunani, gabungan dari kata Philos yang berarti cinta dan Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara sederhananya, filsafat dapat diartikan sebagai pemikiran yang mencintai kebijaksanaan.
Socrates yang merupakan salah satu filusuf yang masyhur ini memiliki murid yang kemudian terkenal dengan pemikirannya, Plato dan Aristoteles. Sebagai seorang Guru, ada sebuah kutipan beliau yang terkenal bahkan sampai dikutip oleh Imam Ahmad al-Syahrastani yang merupakan salah satu ulama besar bagi umat Islam. Kutipan tersebut kurang lebih seperti ini, "Jangan paksakan anak-anakmu mengikuti jejakmu, mereka diciptakan untuk kehidupan di zaman mereka, bukan zamanmu."
Terlepas dari beberapa literasi yang mengatakan makna kutipan tersebut berasal dari sahabat Umar bin Khathab atau dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahkan ada yang mengatakan dari hadits Nabi Muhammad saw, inti dan makna dari kutipan pemikiran Socrates tentang pendidikan ini cukup relevan dengan realita. Dunia terus bergerak dan berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Dahulu belajar tidak menggunakan buku, pensil dan pulpen. Sekarang, belajar sudah menggunakan buku digital dan pendidikan yang terdigitalisisasi. Jika seorang guru tidak ikut bergerak dengan perkembangan zaman dalam hal ini mendidik anak didik sesuai dengan zamannya saat ini, entah kelak anak didik akan siap atau tidak dengan zaman mereka di masa depan. Pemikiran sederhananya karena pada saat guru tersebut menjadi anak didik di masanya, dia tidak menemukan pendidikan yang terdigitalisasi seperti saat ini. Dengan demikian, di masa depan, saat anak didik hidup di zaman mereka, tak terbayang tantangan dan ancaman seperti apa yang akan mereka hadapi.
Lantas apa yang harusnya bergerak dalam pendidikan agar bisa menyiapkan anak didik yang akan siap dengan zamannya? Kuncinya ada di pendidik, Guru. Mereka yang memberikan pendidikan dan pelajaran di manapun tempatnya dan apapun itu, harus bisa bergerak mengikuti perkembangan zaman. Kenyataannya, kemudahan informasi dan kecepatan informasi zaman ini sudah tidak bisa terbendung. Ditambah lagi dengan perkembangan kecerdasan buatan yang tentunya bisa memberikan ancaman bagi manusia di masa depan harus dapat diantisipasi oleh anak didik zaman ini.
Guru memberikan pendidikan tidak hanya berdasar pada transfer informasi namun juga transfer pengalaman dan pembentukan karakter. Jika hanya menyampaikan informasi, anak didik zaman ini dapat dengan mudah mendapatkan informasi apapun tentang mata pelajaran apapun itu. Bahkan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh Guru dapat ditemukan dengan mudah oleh anak didik. Mereka dapat mengakses informasi dengan menggunakan gawai bukan hanya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh guru, melainkan juga kepuasan anak didik. Kepuasan yang didapatkan anak didik ini layaknya dopamin, memberikan efek bahagia yang membuat ketagihan.
Dopamin ini tentunya bagus untuk dimiliki oleh manusia terutama anak didik karena salah satunya dapat membuat mereka termotivasi. Namun demikian, ketika dopamin ini berlebihan maka akan memberikan dampak yang buruk bagi anak didik. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak pernah baik, begitupun dengan hormon dopamin yang dimiliki oleh seseorang. Ketika anak didik memiliki dopamin berlebih maka itu akan mengakibatkan obsesi. Obsesi inilah yang tentunya akan berdampak buruk jika mereka memiliki obsesi bukan pada pelajaran selayaknya anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Ketika anak didik lebih termotivasi dengan menggunakan gawai baik dalam pelajaran dan mencari kepuasan, maka sebagai seorang Guru harus dapat menangkap gejala ini sebagai keresahan akankah anak didik siap dengan kehidupannya di masa depan. Guru tidak boleh memungkiri digitalisasi pendidikan memaksa dan membuat pembelajaran harus dapat menggunakan perangkat yang memang tersedia di zaman ini. Jika di zaman mereka belajar menggunakan buku dan alat tulis, maka saat ini Guru harus dapat menggunakan gawai sebagai media dan sarana untuk proses pembelajaran anak didik. Pada zaman Guru tersebut menjadi anak didik, mereka memiliki Guru-guru yang pada proses pembelajaran tidak pernah menggunakan buku dan alat tulis seperti pensil dan pulpen. Ini membuktikan bahwa melalui media dan sarana proses pembelajaran saja nyata tidak dapat dipungkiri telah berkembang, begitupun zaman ini.
Didiklah anak-anak sesuai dengan zamannya karena mereka bukan tercipta untuk hidup di zaman kita, didik dan siapkan mereka untuk hidup di zamannya. Mari kembangkan pendidikan dan pengajaran kepada anak didik yang kita sesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun kita harus mengingat bahwa saat ini kecepatan informasi sudah tidak dapat lagi terbendung. Pemenuhan hasrat manusia akan informasi akan mudah didapatkan oleh siapapun itu, termasuk anak didik. Hasrat ini layaknya dopamin, maka sebagai Guru, kita harus mengajarkan dan mendidik anak didik agar dapat mengontrol dan bertanggungjawab terhadap penggunaan gawai agar mereka dapat belajar bagaimana mengontrol hasrat mereka untuk mencari kepuasan.
Pendidikan dan pembelajaran dapat dimulai oleh Guru dengan cara sederhana, mari ajarkan anak didik untuk dapat mengontrol dan bertanggungjawab dalam menggunakan gawai bukan hanya dalam proses pembelajaran namun juga dalam kehidupan mereka. Kita harus memikul tanggungjawab terhadap masa depan anak didik di masa depan, mereka harus bisa mengontrol segala kemudahan yang tersedia saat ini. Jangan sampai anak didik kita dikontrol oleh kemudahan saat ini sehingga di masa depan mereka juga tidak menutup kemungkinan akan mudah dikontrol oleh kecerdasan buatan yang dibuat oleh manusia.
Informasi dengan segala kecepatannya di zaman ini memang tidak dapat terbendung, namun seorang Guru harus dapat mengajarkan anak didik untuk mengontrol dan bertanggungjawab terhadap pemuasan hasrat mereka di zaman ini. Jangan sampai anak didik lebih banyak terdidik dan tanpa mereka sadari dididik oleh algoritma zaman ini. Sebagai seorang Guru, kita tidak tahu maksud dan tujuan dari manusia yang membuat algoritma ini, kita hanya bisa mendidik dan mengajarkan anak didik agar mereka sadar dan dapat mengontrol apapun yang mereka tonton dalam mendapatkan dopamin tidaklah semua layak dijadikan tuntunan. Gurulah yang seharusnya memberikan tuntunan untuk anak didik, karena tujuannya sudah jelas, untuk menyiapkan anak didik hidup di zaman mereka kelak.
....
_tulisan ini hanya sebuah keresahan hati Foolish_