Sore ini dia memakai setelan olahraga. Sedari pagi dia berniat untuk berolahraga, namun hingga sore ternyata hanya bercengkrama dengan temannya. Oiya temannya dia kali ini mari kita panggil dengan sebutan "aniki".
Aniki ini merupakan mahasiswa yang sedang menyusun skripsi. Dia bertanya-tanya kenapa sampai saat ini skripsinya belum selesai. Permasalahan atau revisi seperti apa yang membuat aniki tidak menyelesaikan skripsinya tersebut.
Jawaban dari aniki ternyata membuat dia kembali menceritakan perihal obrolannya dengan john yang merupakan teman aniki juga. Namun, dia menambahkan dengan sedikit menjelaskan beberapa pemahaman yang sepertinya aniki belum mengerti dalam menyelesaikan skripsinya. Dia menjelaskan pengertian teori kognitif bloom dari C1-C4 dan mengibaratkan contohnya dengan ibadah solat.
Sedikit akan saya ketik tentang apa yang dia jelaskan kepada aniki. C1 merupakan aspek pengetahuan, diibaratkan dalam ibadah solat maka anak harus tahu dan ingat bacaan niat dan bacaan apa saja dalam gerakan solat. C2 merupakan aspek pemahaman, saat anak mengingat semua bacaan solat dia paham setiap gerakan ada bacaannya yang berbeda atau sama dengan gerakan yang lain. Jadi mereka paham apa yang boleh dan tidak boleh dibaca atau digerakkan. C3 adalah tentang penerapan, mereka mengetahui gerakan solat dan bisa melaksanakannya sesuai dengan bacaannya. Penerapan ini harus sesuai dengan SOP yang dalam bahasa keislaman adalah tumaninah gerakan solatnya. Sedangkan untuk C4, mereka mulai bisa menganalisis apakah gerakannya benar dan sesuai datau apa ada yang salah dan harus diperbaiki. Begitulah yang dia jelaskan kepada aniki.
Dia kembali menegaskan kepada aniki bahwa permasalahan yang dialaminya merupakan hal yang wajar dan justru harus membuatnya memiliki sebuah keyakinan. Permasalahan aniki bagi dia intinya hanyalah tentang keyakinan apakah aniki bisa dan mampu menyelesaikannya. Setiap kali pertanyaan dia ajukan kepada aniki, isinya hanya tentang ketidakyakinan aniki tentang skripsi yang belum selesai. Dia kemudian mengingatkan kembali bahwa dalam keyakinannya, berpikir adalah cara manusia untuk menjadi manusia dan bergerak adalah cara untuk mengubah dan mewujudkan pemikirannya. Namun, kembali lagi dia meyakinkan kepada aniki bahwa kunci dari semua ini bukan dari luar tapi dari diri sendiri dan itu tentang keyakinan. Yakinlah kau mampu, aniki.